Yakin Sudah Punya Keyakinan?
Tiba-tiba suara dari balik dinding berkata, “Apa itu keyakinan? Jika diri masih berkutat di tingkat kebingungan, keraguan dan ketakutan yang kian akut, maka sudilah kiranya kita sadari dan maklumi bahwa diri belumlah seutuhnya memiliki keyakinan.”
Keyakinan
berawal dari kata yakin. Adalah sebuah kebulatan tekad untuk bergerak menuju
satu arah tanpa ada keraguan.
Persis seperti
niat diri untuk terjun ke jurang. Jika masih bingung, ragu dan takut, berarti
kita belum sepenuhnya yakin untuk terjun. Tiga rasa itu saling berkaitan. Di
saat bingung maka akan tercipta ragu dan takut, di saat ragu akan tercipta
perasaan bingung dan takut, dan begitupun ketika ketakutan telah menyergap,
maka akan muncul kebingungan dan keraguan.
Walaupun begitu,
jangan juga sembrono. Lihatlah ke bawah jurang. Apakah ada air yang cukup dalam,
matras atau benda-benda lainnya yang membuat kita tidak mati konyol? Menurut
saya, itulah yang dinamakan tuntunan dan ajaran. Setiap apa yang diyakini tetap
berpedoman pada tuntunan dan ajaran, atau yang biasa kita sebut dengan kata
agama.
Bisa juga
begini, di saat menuju sebuah kota, ada di tiga persimpangan yang terbentang di
depan sana. Ketika memilih jalan pertama, hati pun bingung. Apakah benar jalan
pertama ini adalah jalan terbaik menuju kota. Karena kebingungan yang kian
menjadi, kita mundur dan kembali menatap tiga persimpangan.
Kemudian, ketika
jalan kedua dipilih, ragu pun muncul seiring dengan pertanyaan, “Bagaimana
dengan jalan pertama dan ketiga? Sepertinya mungkin lebih cepat sampai ke kota
jika menempuh jalan pertama atau ketiga.”
Lagi-lagi mundur.
Ok, jalan ketiga. Saat jalan ketiga ditempuh, pikiran dirasuki ketakutan.
Apakah ini memang jalan yang benar? Bagaimana kalau jalan ketiga ini membawa
diri menuju hutan belantara yang dihuni sekumpulan binatang buas?
Begitulah, ada
yang berupaya untuk kembali ke garis awal dan ada yang terdiam membisu di jalan
ketiga. Dan ya, kadang kita lupa jika waktu untuk masing-masing manusia telah
ditetapkan-Nya. Begitu merugi saat yakin belum terpatri, usia pun usai.
Saya pernah
membaca artikel di Wikipedia, di sana tertulis bahwa menurut perkiraan, ada
sekitar 4.200 agama yang tersebar di dunia. Bayangkan. Begitu banyaknya ragam keyakinan yang bisa dipilih dan dianut
oleh umat manusia di bumi ini. Dengan segitu banyaknya, siapa yang tidak akan
bingung, ragu-ragu atau ketakutan dalam melangkah dan berproses menuju
kehidupan yang berarti?
Memilih
sebuah keyakinan memang mudah, namun untuk meyakinkan diri agar benar-benar
yakin akan sebuah keyakinan yang telah kita pilih adalah sebuah perjalanan yang
berat. Godaan dari rasa bingung, ragu dan takut pun pasti ada. Apalagi kita
seringkali diaduk oleh perdebatan tokoh-tokoh agama yang bilang kalau
organisasi keagamaannya yang benar, dan organisasi lain adalah salah.
Sering
juga, penafsiran kitab atau hadist pun sering menimbulkan perdebatan kusir atas
perbedaaan pemahaman dan makna yang tercipta. Saya menilai hal ini tak lebih
dari perang ego! Atau ya, bisa jadi para pedebat ini sebenarnya butuh cara
meyakini diri dan takut sendiri.
Dan
juga, kemerosotan keyakinan pun juga sering ditimbulkan atas peraturan yang
dibuat oleh organisasi-organisasi agama yang serta merta menciptakan makna atau
pemikiran yang semakin sempit untuk ber-Tuhan dan beragama.
Jalan
lurus adalah keyakinan dan keyakinan adalah jalan lurus. Dengan satu pegangan,
yakni pernyataan itu tetap berdasarkan tuntunan dan ajaran agama yang kita
peluk.
Saya
yakin, sebagian dari kita selalu merasa bingung, ragu dan takut dalam
melaksanakan ibadah atau pekerjaan yang telah dipilih untuk diyakini. Namun itulah
salah satu tantangan kehidupan di bumi ini toh? Waktu akan menguji seberapa
lama kita mampu bertahan untuk membulatkan keyakinan di dalam diri. Bisa saja
cepat, bisa saja lambat. Tergantung diri masing-masing.
Bagaimana,
yakin sudah memiliki keyakinan?
***
Komentar
Posting Komentar